Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
- Proses Peralihan dari Subjective Love ke Objective Love.
------------------------------ --------------------------- Subjective
love sebenarnya tidak berbeda daripada?manipulative?love yaitu kasih
dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir?orang yang menerima.??
Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan????? kemauan dan tugas dari si
pemberi dan tidak memperhitungkan akan?apa yang sebenarnya dibutuhkan
oleh si penerima.?? Sesuai dengan?sinful naturenya, ?setiap anak kecil
telah belajar mengembangkan????? subjective love.?? Dan subjective love
ini tidak dapat menjadi?dasar pernikahan.?? Pacaran adalah saat yang
tepat untuk mematikan??sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan
subjective love?menjadi objective love. Yaitu memberi sesuai dengan apa
yang?baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima
- Proses Peralihan dari Envious Love ke Jealous Love.
------------------------------ Envious
sering diterjemahkan sama dengan jealous yaitu?cemburu.? Padahal
envious mempunyai pengertian yang berbeda.??Envious adalah kecemburuan
yang negatif yang ingin mengambil? dan merebut apa yang tidak menjadi
haknya. Sedangkan jealous??adalah kecemburuan yang positif yang menuntut
apa yang memang?menjadi hak dan miliknya.?? Tidak heran, kalau Alkitab
sering?menyaksikan Allah sebagai Allah yang jealous, yang
cemburu??(misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya.? Kalau
Israel????? menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa
kafir?sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut
Israel?kembali kepada-Nya.? Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi.
Pacaran muda-mudi?Kristen harus ditandai dengan jealous love. Mereka
tidak boleh?menuntut sesuatu yang bukan atau belum menjadi haknya? (
seperti:?hubungan seksual pra-nikah, wewenang mengatur kehidupannya,
dsb). Tetapi? mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya,
seperti?kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan
Yesus, dsb.
- Proses Peralihan dari Romantic Love ke Real Love.
------------------------------ Romantic
love adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam?alam mimpi yang
didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa?kehidupan ini manis
semata-mata.? Muda-mudi yang berpacaran? biasanya terjerat pada romantic
love.? Mereka semata-mata? menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba
mempertanyakan????? realitanya, misal:
- apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
- apakah dia memang orang yang begitu sabar, caring, penuh?tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
- apakah
realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu,?rekreasi,
jalan-jalan, cari hiburan)??? Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh
karena itu pacaran?Kristen tidak mengenal dimabuk cinta. Pacaran Kristen
boleh?dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.??
- Proses Peralihan dari Activity Center ke Dialog Center.
------------------------------ Pacaran
dari orang-orang non-Kristen hampir selalu activity-center.? Isi dan
pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas?(nonton, jalan-jalan,
duduk berdampingan, cari tempat rekreasi,?dsb.),? sehingga pacaran 10
tahun pun tetap merupakan 2 pribadi?yang saling tidak mengenal.?
Sedangkan pacaran orang-orang Kristen?berbeda.? ?Sekali lagi orang-orang
Kristen juga boleh berekreasi?dsb, tetapi centernya? (isi dan pusatnya)
bukan pada rekreasi?itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi
antara dua pribadi?secara utuh (Martin Buber, I and Thou, by Walter
Kauffmann,?Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu
pengenalan yang benar dan mendalam.
- Proses Peralihan dari Sexual Oriented ke Personal Oriented.
------------------------------ ------------------------------ Pacaran
orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan?melampiaskan kebutuhan
seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb,?bukanlah pada hal-hal seksuil,
tapi sekali lagi (seperti telah?disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan
pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran memang tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh
karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah keharusan.?Melalui
dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer?sebagai dasar
pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus?? sampai disini. Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
- Imannya.
Apakah
sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan?kembali (Yoh
3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7)?lebih daripada
ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat-tempat yang tersembunyi
dari mata manusia sekalipun ia tetap?takut berbuat dosa. Apakah ia
mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal
rohani?
- Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat
menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya?dengan cara yang baik?
Dapat bergaul dan menghormati orang-orang?tua? Apakah ia menghargai
pendapat orang lain?
- Temperamennya.
Apakah ia dapat
menerima dan memberi kasih secara sehat?? Dapat? menempatkan diri dalam
lingkungan yang baru bahkan sanggup?membina komunikasi dengan mereka?
Apakah emosinya cukup stabil?
- Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya,?baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang?
primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum
mempersiapkan?mereka memasuki phase pernikahan. Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran-pemikiran berikut:
- Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang?dia tidak sukai.
- Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau?kami ingin selalu bercumbuan saja.
- Saya rasa dia akan meninggalkan saya kalau saya menuntut?kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.?
- Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan?pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb. Oleh : Yakub B. Susabda
|